Ziarah Taman Prasasti, Sejarah Batavia yang Berbaring di Batu Nisan

Jakarta, penggilabola Indonesia

Batu nisan pertama langsung menyambut begitu melangkah melewati gerbang. Bukan satu atau dua, melainkan ratusan.

Sebagian menjulang tinggi, sebagian lain sederhana. Ada yang berbentuk menara, obelisk, gereja kecil, hingga alat musik. Di sela-selanya, pepohonan rindang membuat suasana teduh sekaligus sunyi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sulit menyebut

Museum Taman Prasasti

sebagai museum biasa. Tidak ada ruang pamer tertutup yang dipenuhi etalase kaca. Sebaliknya, seluruh koleksinya berada di ruang terbuka, berdiri di atas bekas kompleks pemakaman yang pernah menjadi tempat peristirahatan terakhir kalangan elite Batavia.

penggilabolaIndonesia.com

berkesempatan mengunjungi Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat, Selasa (7/7). Pengalaman menyusuri kawasan ini terasa seperti berjalan dari satu perhentian ke perhentian berikutnya. Jalurnya tenang, dipenuhi makam dan monumen, menghadirkan suasana yang mengingatkan pada perjalanan ziarah.

Dengan membeli tiket Rp10 ribu, pengunjung akan menerima selebaran berisi peta dan informasi singkat mengenai koleksi museum. Tidak ada pemandu khusus yang menemani, tetapi pengunjung dapat bertanya langsung kepada petugas yang berjaga di area museum.

Sebelum benar-benar masuk ke kawasan makam, perhatian tertuju pada sebuah batu prasasti marmer putih berukuran besar. Dari prasasti itulah diketahui bahwa kompleks pemakaman ini dibangun pada 1795 sebagai pemakaman orang Eropa di Batavia.

Sekitar 1975, kawasan ini ditutup sebagai tempat pemakaman. Karena memiliki nilai sejarah dan arsitektur, kawasan tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi Museum Taman Prasasti dan diresmikan pada 9 Juli 1977.

Salah seorang pengelola menjelaskan bahwa sebelum menjadi museum, kawasan ini merupakan kompleks pemakaman seluas sekitar 5,5 hektare.

“Taman pemakaman ini kita sebut Kebon Jahe Kober. Kebon Jahe itu nama tempatnya, sedangkan kober artinya kuburan bersama. Kalau dalam bahasa Belanda, namanya

Begraafplaats

,” ujarnya.

Kini luas kawasan yang tersisa sekitar 1,3 hektare dengan sekitar 900 monumen makam yang masih dapat dilihat pengunjung.

Belum jauh berjalan, sebuah patung perempuan menarik perhatian. Wajahnya menunduk, tangannya seolah menutupi kesedihan.

Patung itu dikenal sebagai The Crying Lady atau Lady in Mourning. Bukan menggambarkan seseorang yang dimakamkan di lokasi, sosok perempuan yang menangis itu adalah simbol duka cita dan kesedihan yang lazim ditemukan dalam seni pemakaman Eropa pada masa kolonial.

Sebagian besar makam menggunakan marmer putih berukuran besar dengan detail pahatan yang rumit. Masing-masing memiliki gaya arsitektur berbeda, seolah menunjukkan status sosial, profesi, maupun zamannya.

Salah satu yang paling mencolok adalah monumen makam Mayor Jenderal J.J. Perie. Warnanya hijau tua dengan bentuk menyerupai menara tinggi sehingga mudah dikenali bahkan dari kejauhan.

Tak jauh dari sana berdiri monumen L. Launy yang berbentuk obelisk, menyerupai tugu batu menjulang ke atas. Monumen ini merupakan makam seorang Direktur Jenderal Keuangan pada masa Hindia Belanda.

Ada pula makam Monsignor Walterus Jacobus Staal yang bentuknya menyerupai gereja bergaya Gotik. Menara runcing, lengkungan lancip, dan detail ukiran vertikal mendominasi keseluruhan bangunan.

Walterus Jacobus Staal merupakan Vikaris Apostolik Batavia sekaligus uskup Jesuit pertama yang memimpin Vikariat Apostolik Batavia pada akhir abad ke-19.

Salah satu monumen yang juga cukup mencolok adalah makam Pastor H. van der Grinten. Patung pastor berjubah yang menjulang di atas pedestal tinggi membuatnya mudah dikenali di antara deretan nisan lainnya.

Ada juga monumen yang paling unik adalah nisan bertuliskan Hier Rusten yang dihiasi bentuk alat musik lira (lyre). Dalam bahasa Belanda, Hier Rusten berarti ‘di sini beristirahat’.

Berjalan di antara makam-makam tua membuat mata pun beberapa kali berhenti pada kalimat-kalimat berbahasa Belanda yang masih terukir jelas.
Salah satunya berbunyi Onze Lieveling, yang berarti ‘kesayangan kami’ atau ‘anak tercinta kami’.

Kalimat sederhana itu membuat makam-makam tersebut terasa lebih personal. Di balik nama dan tahun kematian, ada keluarga yang pernah berduka dan meninggalkan ungkapan terakhir untuk orang yang mereka cintai.

Nama-nama yang masih dikenang

Museum ini juga menjadi tempat mengenang sejumlah tokoh yang pernah hidup di Batavia.

Salah satunya adalah Olivia Mariamne Raffles, istri Thomas Stamford Raffles. Monumennya berada tidak jauh dari gerbang penghubung menuju Kantor Walikota Jakarta Pusat dan tampak berbeda karena dikelilingi pagar besi berwarna hijau.

Menurut pengelola museum, yang berada di lokasi saat ini merupakan prasasti atau penanda makam.

Selain Olivia, ada pula penanda untuk aktivis Soe Hok Gie. Bentuknya jauh lebih sederhana dibanding monumen-monumen lain karena jenazahnya telah dikremasi setelah pemindahan makam dilakukan.

Di area lain terdapat sebuah batu bertuliskan aksara Hanzi. Batu tersebut menjadi penanda keberadaan komunitas Tionghoa di Batavia. Menunjukkan bahwa museum ini tidak hanya menyimpan jejak masyarakat Eropa, tetapi juga sejarah panjang komunitas Tionghoa di Jakarta.

Beberapa makam menyimpan simbol-simbol yang menarik untuk diperhatikan. Salah satunya adalah makam yang dijaga dua patung singa. Dalam berbagai tradisi, guardian lions melambangkan perlindungan, kewibawaan, penjaga arwah, sekaligus penolak roh jahat.

Pada makam yang sama juga terukir kalimat “Sudah selesai” atau “Telah tergenapi”, kutipan dari Injil Yohanes 19:30 yang merupakan ucapan terakhir Yesus di kayu salib.

Perpaduan simbol Kristen dengan ornamen singa bergaya Tionghoa memperlihatkan bagaimana berbagai budaya pernah bertemu dan saling memengaruhi di Batavia.

Bukan hanya makam

Museum Taman Prasasti ternyata tidak hanya menyimpan nisan. Di salah satu bangunan terdapat peti jenazah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta yang digunakan dalam prosesi pemakaman kenegaraan.

Ada pula kereta jenazah atau hearse yang dahulu dipakai mengangkut jenazah menuju kompleks pemakaman, lengkap dengan lonceng yang berfungsi sebagai penanda datangnya iring-iringan pemakaman.

Koleksi-koleksi itu memperlihatkan bahwa museum ini bukan sekadar bercerita tentang kematian, tetapi juga tradisi, ritual, dan perjalanan sejarah Indonesia dari masa kolonial hingga setelah kemerdekaan.

Di akhir kunjungan, tak lupa mampir untuk mengumpulkan cap atau museum stamp sebagai penanda bahwa kamu pernah singgah di Museum Taman Prasasti.

Add

as a preferred

source on Google

Ziarah Taman Prasasti, Sejarah Batavia yang Berbaring di Batu Nisan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: BMKG Rilis Daftar 8 Wilayah Masih Berpotensi Hujan Hari Ini

Baca lagi: Cuaca Kering Kian Dominan di Musim Kemarau, Masih Ada Hujan?

Baca lagi: FOTO: Dunia Dongeng Chanel dalam Balutan Couture

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: