Makin Mudah Diakses, Kualitas Lounge Bandara Malah Menurun

Jakarta, penggilabola Indonesia

Lounge

bandara yang dulu identik ketenangan dan servis eksklusif kini kian mudah diakses berkat

kartu kredit

dan program keanggotaan seperti Priority Pass. Namun kemudahan ini disebut berbanding terbalik dengan kualitas layanan yang makin menurun.

“Perjalanan meningkat signifikan. Ini kebangkitan kelas menengah,” kata Mei Mei Song, chief transformation officer Plaza Premium Group, operator

lounge

dan layanan

concierge

di berbagai bandara dunia, dikutip penggilabola.

Ia menambahkan pasar

lounge

kini mulai bervariasi mengikuti profil konsumennya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Puluhan tahun lalu,

lounge

bandara umumnya dioperasikan maskapai dan hanya terbuka untuk penumpang kelas atas. Kini banyak kartu kredit menawarkan akses

lounge

sebagai benefit anggota, ditambah aplikasi keanggotaan seperti Priority Pass, membuat ambang masuk lounge makin rendah.

Menurut survei JD Power, sekitar 20 persen pengguna

lounge

masuk berdasarkan status

frequent flyer

maskapai, sekitar 20 persen lain lewat benefit kartu kredit, dan kurang dari 10 persen membeli

day pass

. Sisanya, sekitar separuh, memegang tiket kelas satu atau bisnis.

Keluhan menumpuk

Di media sosial, banyak

traveler

membagikan kekecewaan atas

lounge

yang mereka kunjungi, bufet dingin dan sisa-sisa makanan, mesin kopi rusak, slot pengisi daya penuh, kursi kosong yang sulit didapat, hingga antrean masuk yang mengular.

Lounge

bandara bukan gaya-gayaan seperti yang kamu kira,” ucap TikToker Izzy Anaya dalam video yang menampilkan bufet lesu di sebuah

lounge

.

“Kamu sebenarnya mampu beli minum sendiri,” lanjutnya.

Eric Gao, pemilik akun TikTok seputar trik perjalanan, Juni lalu mengunggah video antrean masuk

lounge

berlabel Chase Sapphire.

“Bayangkan membayar US$795 per tahun (setara Rp14,33 juta, kurs Rp18.029), cuma supaya saya bisa antre di bandara,” katanya.

Tyler Dillon, spesialis perjalanan asal Kanada sekaligus profesor, bahkan berhenti total memakai

lounge

.

Lounge-lounge

ini tidak sama. Lebih mirip kapal pesiar,” tuturnya.

Tak semua

lounge

setara

Kyle Olsen, penulis topik

lounge

untuk situs mitra

penggilabola

, Underscored, menyebut

lounge

kini tak lagi setara satu sama lain. Sebagian

lounge

kelas atas menambah fasilitas seperti

hot tub

pribadi dan perawatan kulit, sementara sebagian lain justru merilis konsep ”

grab and go

” untuk mengambil makanan secara cepat.

“Itu tidak benar-benar lebih baik dibanding sekadar membeli yogurt parfait seharga US$15, atau setara Rp270.435 (kurs Rp18.029), lalu langsung ke gerbang keberangkatan,” jelas Olsen soal konsep itu.

Ia sendiri tak sepakat bila jalan keluarnya adalah membuat

lounge

makin eksklusif.

“Menurut saya

lounge

semestinya bisa diakses lebih banyak orang. Saya tidak setuju kalau itu cuma disediakan untuk orang-orang yang duduk di

first class

,” ujar Olsen.

(fea)

[Gambas:Video penggilabola]

Baca lagi: Patra Niaga Berduka Insiden Tanah Bumbu, Tegaskan Bukan Pemilik Armada

Baca lagi: Sinopsis A Bona fide Killer, Dilema Sniper Jadi Ibu Rumah Tangga

Baca lagi: Semifinal Piala Presiden 2026: Tak Ada Penjualan Tiket Penonton

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: