Anak Masih Menangis saat Ditinggal di Sekolah? Ini 7 Cara Mengatasinya

Jakarta, penggilabola Indonesia

Hari pertama atau beberapa minggu pertama

sekolah

sering menjadi momen yang menguras emosi, bukan hanya bagi

anak

, tetapi juga

orang tua

. Tangisan saat harus berpisah di gerbang sekolah kerap membuat ayah dan ibu bimbang, apakah harus menemani lebih lama atau justru segera pergi?

Kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi, terutama pada anak yang baru mulai bersekolah. Dalam studi psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai separation anxiety atau kecemasan berpisah, yakni rasa cemas yang muncul ketika anak harus berpisah dari orang tua atau pengasuh utamanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut

American Academy of Pediatrics

(AAP), menangis, menolak masuk kelas, atau terus ingin ditemani orang tua merupakan respons yang masih tergolong normal pada masa adaptasi sekolah. Namun, cara orang tua menyikapi kondisi ini turut menentukan seberapa cepat anak mampu merasa aman di lingkungan barunya.

Cara menghadapi anak yang menangis saat ditinggal di sekolah

Berikut cara yang bisa dicoba saat menghadapi anak yang masih menangis saat ditinggal di sekolah.

1. Tetap tenang saat mengantar anak

Melihat anak menangis memang tidak mudah, namun usahakan tetap terlihat tenang. AAP menjelaskan, anak sangat peka terhadap emosi orang tuanya.

Jika orang tua terlihat cemas, ragu, atau sedih saat berpamitan, anak dapat menangkap sinyal tersebut dan merasa bahwa sekolah memang tempat yang perlu ditakuti. Sebaliknya, sikap yang tenang dan percaya diri dapat membantu anak merasa lebih aman.

2. Buat rutinitas berpamitan yang singkat

Banyak orang tua memilih menunggu hingga anak benar-benar tenang sebelum pergi. Padahal, cara ini justru bisa membuat proses perpisahan semakin panjang.

Sebaiknya orang tua membuat rutinitas berpamitan yang sederhana dan konsisten, misalnya memeluk anak, menciumnya, mengucapkan salam, lalu pergi.

Rutinitas yang sama setiap hari membantu anak memahami bahwa perpisahan merupakan bagian dari aktivitas sekolah dan orang tua akan kembali menjemputnya.

3. Jangan diam-diam pergi atau kembali lagi setelah berpamitan

Sebagian orang tua memilih meninggalkan sekolah tanpa berpamitan agar anak tidak menangis. Cara ini justru tidak dianjurkan. Pergi diam-diam dapat mengurangi rasa percaya anak karena mereka merasa orang tua menghilang begitu saja.

Setelah berpamitan, orang tua juga sebaiknya tidak kembali lagi hanya karena anak menangis. Jika setiap tangisan membuat orang tua kembali, anak bisa belajar bahwa menangis adalah cara agar orang tua tetap berada di dekatnya.

4. Alihkan perhatian anak ke aktivitas yang menyenangkan

Mengutip jurnal International Journal of Business Law and Education, mengenai separation anxiety pada anak usia dini ditemukan bahwa tangisan biasanya terjadi pada momen perpisahan.

Namun, setelah perhatian anak berhasil dialihkan ke kegiatan bermain, berinteraksi dengan guru, atau bergabung bersama teman-temannya, kecemasan perlahan berkurang.

Karena itu, orang tua dapat bekerja sama dengan guru untuk mengajak anak mengikuti aktivitas yang disukainya sesaat setelah tiba di sekolah.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya..

5. Bangun komunikasi yang baik dengan guru

Masa adaptasi tidak hanya menjadi tugas orang tua, tetapi juga guru. Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa anak lebih cepat beradaptasi ketika guru menyambutnya dengan hangat, memberikan rasa aman, serta tidak memaksa anak berhenti menangis secara tiba-tiba.

Komunikasi yang baik antara guru dan orang tua juga membantu kedua belah pihak mengetahui perkembangan anak selama masa penyesuaian.

6. Beri apresiasi atas setiap kemajuan kecil

Anak mungkin belum langsung berhenti menangis dalam satu atau dua hari. Namun, ketika ia mulai lebih cepat tenang, berani masuk kelas sendiri, atau mampu berpisah tanpa tangisan panjang, jangan lupa memberikan apresiasi, pujian sederhana. Hal ini dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri anak selama proses adaptasi.

7. Waspadai jika tangisan berlangsung terlalu lama

Menangis pada awal masuk sekolah merupakan hal yang wajar. AAP mengingatkan orang tua untuk memperhatikan bila tangisan berlangsung terus-menerus selama berminggu-minggu, semakin berat, atau sampai membuat anak tidak mau sekolah dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Jika kondisi tersebut terjadi, orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog untuk memastikan apakah anak mengalami gangguan kecemasan berpisah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Menangis bukan berarti anak gagal beradaptasi

Tidak semua anak membutuhkan waktu yang sama untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Ada yang hanya memerlukan beberapa hari, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu beberapa minggu hingga benar-benar merasa nyaman.

Yang terpenting, orang tua tidak terburu-buru menganggap tangisan sebagai tanda anak tidak siap sekolah.

Dengan rutinitas yang konsisten, dukungan dari guru, serta rasa aman yang terus dibangun, sebagian besar anak akan mulai memahami bahwa sekolah adalah tempat yang aman dan orang tua akan selalu kembali menjemput mereka.

Add

as a preferred

source on Google

Anak Masih Menangis saat Ditinggal di Sekolah? Ini 7 Cara Mengatasinya

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Sinopsis The East Palace, Kutukan Roh Jahat di Jantung Istana

Baca lagi: Arumsari Bongkar Alasan MBG Tetap Jalan saat Libur di Era Dadan

Baca lagi: 8 Siswi Tenggelam Saat Berenang di Mata Air Cisurupan Garut, 1 Tewas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: